TechnoUpdate News

Robot Mulai Gantikan Kurir di Jepang, Akankah Tren Ini Sampai ke Indonesia?

Di tengah kekurangan tenaga kerja, Jepang mulai menggunakan robot untuk mengantarkan barang menggantikan peran kurir manusia.

Jepang kini memasuki era baru dalam dunia logistik. Di beberapa kota besar seperti Tokyo dan Hachioji, pengantaran barang mulai dilakukan bukan oleh manusia, melainkan oleh robot otonom. Rakuten Group menjadi salah satu pelopor dengan meluncurkan layanan robot pengantaran otomatis di distrik Harumi, Tsukishima, dan Kachidoki. Robot ini mampu mengantarkan paket dari toko ke titik pengambilan pelanggan dengan biaya sekitar 100 yen per pengiriman.

Langkah serupa juga dilakukan oleh jaringan minimarket Seven-Eleven Japan. Dua gerai di wilayah Hachioji telah menguji coba robot beroda empat yang bisa berjalan di trotoar, mengikuti lampu lalu lintas, menghindari pejalan kaki, dan melaju dengan kecepatan sekitar enam kilometer per jam. Uji coba tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dan pelaku industri Jepang untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor logistik yang semakin parah akibat populasi menua.

Meski terlihat futuristik, kehadiran robot pengantar barang bukan berarti profesi kurir manusia akan langsung hilang. Banyak pihak di Jepang menegaskan bahwa teknologi ini masih berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti penuh. Uber Eats Japan, misalnya, yang juga menguji robot pengantaran di Tokyo, menyebut bahwa peran pengantar manusia akan tetap dibutuhkan setidaknya dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan. Robot lebih cocok menangani pengantaran jarak dekat di area padat penduduk atau lingkungan dengan akses terbatas kendaraan bermotor.

Pergeseran menuju penggunaan robot ini didorong oleh beberapa faktor penting. Selain penurunan jumlah pekerja muda, volume pengiriman paket e-commerce di Jepang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pemerintah pun telah merevisi undang-undang lalu lintas sejak April 2023 agar robot pengantaran bisa beroperasi di jalan umum secara legal. Kombinasi antara kebutuhan efisiensi dan dukungan regulasi membuat eksperimen ini berkembang pesat.

Read More  MG Motor Tegaskan Komitmen Keselamatan dan Elektrifikasi Lewat Teknologi Global

Pertanyaannya, apakah tren ini akan sampai ke Indonesia? Kemungkinan besar iya, meski tidak dalam waktu dekat. Indonesia memiliki potensi besar untuk mengadopsi teknologi serupa karena pertumbuhan e-commerce yang sangat cepat serta kebutuhan efisiensi pada tahap pengantaran terakhir atau last-mile delivery. Namun, tantangan seperti infrastruktur jalan dan trotoar yang belum memadai, biaya investasi tinggi, serta kondisi lalu lintas yang padat masih menjadi penghambat utama. Selain itu, faktor sosial seperti keamanan robot dan penerimaan masyarakat juga perlu diperhitungkan.

Jika melihat arah perkembangan teknologi logistik global, adopsi robot pengantaran di Indonesia bukanlah hal yang mustahil. Kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung bisa menjadi lokasi uji coba awal ketika regulasi dan infrastruktur sudah siap. Pada akhirnya, kehadiran robot dalam layanan pengantaran bukan sekadar menggantikan manusia, melainkan menandai era kolaborasi baru antara teknologi dan tenaga kerja manusia untuk menciptakan sistem logistik yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Back to top button